Inisiatif ini berawal dari pengamatan terhadap tumpukan limbah ban bekas yang sering ditemukan di bengkel-bengkel besar maupun di pinggiran jalan. Alih-alih membiarkannya menjadi sarang nyamuk atau dibakar yang dapat menimbulkan polusi udara, para mahasiswa mengumpulkan ban tersebut untuk diolah kembali. Ban bekas mobil hingga truk memiliki bobot yang bervariasi dan ketahanan material yang sangat kuat, menjadikannya bahan dasar yang ideal untuk membuat alat latihan kekuatan. Dengan sedikit modifikasi teknis, barang yang sebelumnya dianggap sampah kini memiliki nilai guna tinggi di pusat kebugaran mahasiswa.
Proses pembuatan alat fitness ini dilakukan secara kolektif di bengkel kreatif BAPOMI Dumai. Ban-ban tersebut dibersihkan, dicat ulang agar terlihat lebih estetis, dan ditambahkan beberapa komponen pendukung seperti tali tambang, semen, atau besi bekas sebagai pegangan. Hasilnya sangat luar biasa; mereka berhasil menciptakan peralatan seperti ban guling (tire flip), suspension trainer, hingga beban angkat yang setara dengan peralatan di pusat kebugaran profesional. Inovasi ini membuktikan bahwa menjadi sehat dan bugar tidak harus selalu bergantung pada peralatan impor yang harganya melambung tinggi.
Keunggulan dari penggunaan alat hasil daur ulang ini adalah daya tahannya terhadap cuaca. Karena terbuat dari karet tebal, peralatan ini sangat cocok diletakkan di area latihan luar ruangan atau outdoor gym yang dibangun oleh BAPOMI di lingkungan kampus. Mahasiswa dari berbagai jurusan kini memiliki akses lebih luas untuk melatih fisik mereka tanpa harus memikirkan biaya keanggotaan gym yang mahal. Selain itu, aktivitas fisik yang dilakukan dengan alat ini cenderung lebih fungsional dan melibatkan banyak kelompok otot secara bersamaan, sangat cocok bagi atlet yang membutuhkan daya tahan tinggi.
Secara sosial, proyek ini juga memberikan edukasi mengenai ekonomi sirkular dan kepedulian lingkungan kepada para mahasiswa. BAPOMI mengajarkan bahwa seorang atlet harus memiliki pemikiran yang multifungsi, tidak hanya tangguh di lapangan tetapi juga kreatif dalam mencari solusi atas permasalahan di sekitarnya. Dengan mengurangi Limbah Ban di Kota Dumai, para atlet mahasiswa secara tidak langsung turut berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan kota. Gerakan ini pun mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat sebagai model pemberdayaan pemuda yang inovatif dan mandiri.