Upaya untuk bangun mental baja pada diri seorang atlet memerlukan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan. Mental baja yang dimaksud adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan, bangkit dengan cepat setelah mengalami kegagalan, dan tetap fokus pada target meskipun situasi di lapangan tidak menguntungkan. Di Dumai, mahasiswa dilatih melalui simulasi pertandingan yang dirancang untuk meniru tekanan atmosfer kompetisi yang sesungguhnya. Mereka diajarkan teknik visualisasi dan afirmasi positif agar mampu mengendalikan dialog internal dalam pikiran mereka saat menghadapi lawan yang lebih senior atau lebih diunggulkan.
Peran seorang atlet mahasiswa memiliki beban ganda yang unik. Di satu sisi, mereka membawa harapan besar dari universitas dan daerahnya untuk meraih prestasi. Di sisi lain, mereka harus tetap menjaga integritas sebagai akademisi yang memiliki tanggung jawab terhadap tugas-tugas kuliah. Tekanan ini bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan baik. Melalui bimbingan konseling olahraga, para atlet diajarkan bahwa tekanan bukanlah beban, melainkan sebuah tantangan yang akan meningkatkan kualitas diri mereka. Memiliki mental yang tangguh berarti memiliki kemampuan untuk memisahkan masalah pribadi atau akademik saat sudah menginjakkan kaki di arena pertandingan.
Kondisi psikologis mahasiswa sering kali diuji saat berada di tengah tekanan penonton yang riuh atau provokasi dari pihak lawan. BAPOMI Dumai bekerja sama dengan pakar psikologi untuk memberikan lokakarya mengenai manajemen stres dan kontrol emosi. Mahasiswa diajarkan cara mengatur napas untuk menurunkan tingkat kecemasan sesaat sebelum bertanding. Dengan kontrol emosi yang baik, seorang atlet tidak akan mudah kehilangan fokus atau melakukan tindakan ceroboh yang bisa merugikan tim. Mental yang stabil adalah kunci utama bagi konsistensi performa dalam jangka panjang, terutama pada cabang olahraga yang membutuhkan akurasi dan ketenangan tinggi.
Wilayah Dumai bangun mental baja yang sedang berkembang pesat sebagai pusat industri juga memberikan warna tersendiri bagi pembentukan karakter atletnya. Mahasiswa didorong untuk memiliki jiwa petarung yang jujur, selaras dengan semangat kerja keras masyarakat pesisir. Organisasi menekankan bahwa kemenangan yang diraih dengan mental yang rapuh atau cara-cara yang tidak sportif tidak akan memberikan kepuasan batin yang abadi. Sebaliknya, kekalahan yang dihadapi dengan mental baja akan menjadi pelajaran berharga yang akan mendewasakan mereka sebagai individu yang siap menghadapi tantangan kehidupan nyata di dunia profesional setelah lulus nantinya.