sDumai dikenal sebagai kota pelabuhan dan industri dengan suhu harian yang cenderung tinggi dan kelembapan yang cukup pekat pada siang hari. Kondisi geografis ini memaksa para atlet mahasiswa di Dumai untuk melakukan adaptasi jadwal latihan yang unik, yaitu memilih waktu setelah matahari terbenam. Fenomena lari malam ini bukan sekadar upaya menghindari terik matahari, melainkan sebuah strategi fisiologis yang berkaitan erat dengan optimalisasi sistem metabolisme tubuh manusia dalam kondisi suhu yang lebih bersahabat bagi aktivitas fisik intensitas tinggi.
Secara biologis, ritme sirkadian manusia sangat mempengaruhi bagaimana energi diproduksi dan digunakan. Pada siang hari di Dumai, tubuh harus mengalokasikan banyak energi untuk proses termoregulasi atau pendinginan suhu inti tubuh agar tidak terjadi overheat. Namun, saat malam tiba dan suhu lingkungan menurun, beban termoregulasi tersebut berkurang secara signifikan. Hal ini memungkinkan metabolisme atlet bekerja lebih fokus pada penyediaan energi untuk kontraksi otot dan perbaikan jaringan. Mahasiswa di Dumai melaporkan bahwa mereka merasa memiliki tenaga yang lebih meledak-ledak dan daya tahan yang lebih lama saat berlari di bawah cahaya lampu kota dibandingkan saat berlari di bawah terik matahari.
Proses metabolisme anaerobik dan aerobik juga tampaknya mencapai puncaknya pada sore menjelang malam hari bagi banyak individu. Suhu tubuh inti manusia secara alami sedikit meningkat pada waktu tersebut, yang secara mekanis meningkatkan efisiensi enzim dalam memecah glukosa menjadi energi. Di Dumai, sesi lari malam dimanfaatkan untuk latihan kecepatan (sprinting) dan daya tahan yang sangat berat. Dengan suhu udara yang lebih dingin, jantung tidak perlu memompa darah terlalu cepat ke permukaan kulit untuk mengeluarkan panas, sehingga volume darah yang kaya oksigen dapat dialirkan lebih banyak ke otot-otot besar. Inilah alasan mengapa catatan waktu lari mahasiswa Dumai seringkali lebih tajam saat sesi malam.
Selain faktor suhu, aspek hormonal juga memainkan peran penting. Latihan di malam hari memicu profil hormon yang berbeda dibandingkan pagi hari. Bagi mahasiswa yang memiliki jadwal akademik padat dari pagi hingga sore, lari malam menjadi sarana untuk melepaskan stres akumulatif. Penurunan hormon kortisol (hormon stres) setelah beraktivitas seharian dan kenaikan hormon endorfin selama lari malam menciptakan keseimbangan metabolisme yang mendukung pemulihan lebih cepat. Hal ini sangat penting bagi atlet mahasiswa agar keesokan harinya mereka tetap bisa fokus di ruang kuliah tanpa rasa lelah yang berlebihan secara fisik maupun mental.