Gagasan bahwa Olimpiade harus kembali menyambut seni kini semakin mengemuka. Ini bukan sekadar wacana baru, melainkan napak tilas sejarah. Faktanya, Olimpiade modern pada awalnya memang dirancang untuk merayakan keunggulan fisik dan artistik secara bersamaan. Mari kita menguak kembali sejarahnya dan gagasan di balik kompetisi artistik ini.
Pierre de Coubertin, bapak Olimpiade modern, sangat meyakini hubungan erat antara olahraga dan seni. Baginya, seorang atlet harus memiliki tidak hanya kekuatan fisik, tetapi juga jiwa yang kaya dan apresiasi terhadap keindahan. Oleh karena itu, sejak awal, Olimpiade dibayangkan sebagai perpaduan harmonis antara muscles and mind.
Pada beberapa edisi awal Olimpiade, mulai dari Stockholm 1912 hingga London 1948, kompetisi seni benar-benar diadakan. Medali Olimpiade diberikan untuk karya seni terbaik dalam lima kategori: arsitektur, sastra, musik, lukisan, dan patung. Ini adalah periode emas integrasi seni dan olahraga.
Syaratnya, setiap karya seni yang dilombakan harus terinspirasi dari tema olahraga. Misalnya, seorang arsitek merancang stadion, seorang komponis menciptakan simfoni tentang perjuangan atlet, atau seorang pelukis mengabadikan momen kemenangan. Ini menunjukkan bagaimana seni dapat merayakan semangat atletik.
Namun, kompetisi seni ini kemudian dihentikan setelah Perang Dunia II. Salah satu alasannya adalah perdebatan tentang status profesionalisme. Seniman umumnya dianggap profesional, sementara atlet di Olimpiade kala itu masih sangat menjunjung tinggi amatirisme, menciptakan inkonsistensi yang menjadi perdebatan.
Meski demikian, wacana untuk mengembalikan seni ke Olimpiade terus bergema. Para pendukung berargumen bahwa zaman telah berubah. Batasan antara amatir dan profesional dalam olahraga telah kabur. Kini adalah waktu yang tepat untuk kembali merayakan keunggulan manusia dalam berbagai bentuknya.
Jika seni kembali ke Olimpiade, formatnya mungkin akan lebih fleksibel. Bisa berupa festival seni paralel, pameran, atau penghargaan tanpa medali fisik yang sama dengan olahraga. Tujuannya adalah merayakan kreativitas seiring dengan kekuatan fisik, menciptakan perayaan kemanusiaan yang lebih holistik.
Kembalinya seni akan menambah dimensi baru pada ajang tersebut. Ini akan menarik audiens yang lebih luas, menggabungkan pecinta olahraga dan penikmat seni dalam satu pesta. Hasilnya adalah perayaan total atas pencapaian manusia dalam berbagai bidang.